Pengertian Tuhan dalam aliran kepercayaan kong hu cu ,memiliki pengertian yang berbeda dari agama-agama lain, disini sering kita mengartikan Tuhan adalah Tian, sebenarnya kurang begitu pas, pengertian Tuhan disini tidak dapat terjangkau oleh pemikiran manusia kenapa begitu dalam agama lain Tuhan adalah mutlak dan hanya satu kekal,dan pencipta, nah tentunya agak berbeda dalam kelenteng yang mengenal struktur dewata, berbagai alam, karenanya tidak ada kata-kata yang dapat mengambarkan keterangan tersebut maka apabila kita mau berucap syukur kepada Tuhan biasanya dapat melalui Tian. pengertian Tian sendiri adalah tempat yang berada diatas kita, jadi tidak salah apabila selama ini kita sembahyang berucap syukur kepada segala yang berada diatas kita Yang Kuasa akan alam ini yaitu Tian.
Dalam kepercayaan kalangan rakyat, Tuhan biasanya disebut sebagai “TIAN” (Thian – hokkian) atau “SHANG DI” (Siang Tee – hokkian).Tian adalah penguasa tertinggi alam semesta ini, sebab itu kedudukanNya berada di tempat yang paling agung. Sedangkan para dewa dan malaikat yang lain adalah para”pembantuNya” dalam menjalankan roda pemerintahan di alam semesta ini, sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Pemujaan Tian dan Shang Di
Secara umum orang beranggapan bahwa Tian dan Shang Di adalah tidak berbeda. Sebetulnya kedua istilah ini memiliki kandungan arti yang tidak sama. Orang Tionghoa umumnya percaya bahwa alam semesta ini selalu terdiri dari dua unsur yaitu Yin dan Yang (Im dan Yang – hokkian). Kepercayaan akan Yin dan Yang ini berlaku untuk semua hal, termasuk kepercayaan akan dunia fana dan alam baka
Pada zaman dahulu rakyat percaya bahwa pemerintahan kahyangan memiliki struktur yang sama dengan sistem pemerintahan di dunia. Kalau pemerintahan dunia terdiri dari kaisar, perdana menteri, menteri-menteri sipil dan militer, dan lain-lain, maka pemerintahan kahyangan pun dipimpin olehShang Di an dibantu para dewa-dewa baik sipil maupun militer untuk mengatur tata tertib di alam semesta ini. Sebab inilah maka para Huang Di (Kaisar) yang di bumi merasa perlu untuk memuja Shang Di (Kaisar yang berkedudukan di atas/kahyangan) untuk mohon perlindungan dan berkah serta petunjuk-petunjuk untuk menjalankan roda pemerintahan di bumi ini agar selalu selaras dengan kehendal Shang Di.
Sebetulnya istilah Tian berarti tempat tinggal Shang Di. Tapi karena kebingungan akan makna dan kekurangan pengetahuan akan bahasa Hua Yu kuno, maka tempat tinggal atau benda milik dari roh suci itu sering kali dipersonifikasikan dan dipuja sebagai pengganti atau pelengkap roh suci itu sendiri.
Sejarah sembahyang tian.
Pemujaan terhadap Shang Di hanya boleh dilakukan oleh kaisar dan para keluarganya, karena beranggapan bahwa Shang Di adalah leluhur mereka dan memberikan mandat untuk memerintah di bumi ini. Rakyat biasa tidak diperbolehkan untuk memuja Shang Di, karena dengan berbuat begitu, dapat dianggap mendudukkan dirinya sejajar sebagai keluarga kaisar, suatu pelanggaran yang diancam dengan hukuman mati. Ketaatan pada kaisar yang menamakan dirinya sebagai wakil Shang Di, dengan menghormat dan mematuhi segala kehendaknya, sudah dianggap sebagai penghormatan dan pemujaan terhadap Shang Disendiri secara tidak langsung. Jadi pemujaan terhadap Shang Di tidak dapat dilakukan secara resmi dalam suatu upacara seperti yang dilakukan oleh para pejabat kerajaan. Upacara sembahyang kepadaShang Di hanya boleh dilakukan oleh keluarga kerajaan dan dipimpin oleh kaisar sendiri sebagai pendeta agung, dibantu oleh anggota keluarganya dan para petinggi kerajaan yang lain. Pada saat itu rakyat jelata tidak diperkenankan untuk menghadiri ataupun mengadakan sembahyang walaupun di kediamannya sendiri.
Karena Tian yang merupakan kediaman para roh-roh suci kemudian juga dipersonifikasi dan dipuja, maka rakyat jelata yang tidak mempunyai hak untuk memuja Shang Di lalu mengalihkan pemujaan kepada Tian. Walaupun kaisar juga memuja Tian, tapi rakyat jelata tidak dilarang untuk memujanya juga. Sembahyang terhadap Tian biasanya dilakukan oleh pihak kerajaan di altar kerajaan yang disebut Tian Tanyang ada di ibukota. Sedang rakyat biasanya mengadakan di rumahnya masing-masing atau di tepi jalan, di depan pintu tanpa upacara macam-macam, cukup dengan sebatang dupa yang disojakan ke arah langit.
Lama-kelamaan, terutama sejak jaman dinasti Song (960 – 1280 Masehi), batasan antara Tian dan Shang Di menjadi kabur. Arti dari kedua istilah itu menjadi tak jelas lagi perbedaannya. Kekaburan-arti ini terus menerus berlangsung sampai sekarang. Apalagi kaisar-kaisar pada dinasti yang kemudian tidak begitu ketat lagi dalam memberlakukan larangan pemujaan Shang Di oleh rakyat. Akibatnya, orang kebanyakan berkata bahwa mereka mengadakan persembahan sederhana kepada Shang Di, pada waktu menyalakan dupa dan lilin. Padahal sebetulnya ia tidak berhak berbuat begitu, walaupun sangat menghormatinya. Ia hanya tahu bahwa Tian adalah Shang Di dan Shang Di adalah Tian.Tian disini tidak bisa digambarkan karena sifat nya abstrak dan tidak terbatas.
Banyak dewa dewi kepercayaan dalam tradisi tionghua atau kong hu cu, konon ada 1000 lebih dewa dan dewi yang dipercaya.Para dewa dan dewi dipercaya karena kan perbuatan kebajikan kepada makluk hidup yang mereka perbuat sehingga dijadikan pedoman hidup hingga sekarang.Ini sebagian kecil dari dewa dan dewi yang diketahui.
Selasa, 17 Maret 2015
Tuhan dalam kepercayaan kong hu cu ( tian)
Boddhisatva Avalokitesvara atau Dewi Kwam Im


Kwan Im pertama diperkenalkan ke Cina pada abad pertama SM, bersamaan dengan masuknya agama Buddha. Pada abad ke-7, Kwan Im mulai dikenal di Korea dan Jepang karena pengaruh Dinasti Tang. Pada masa yang sama, Tibet juga mulai mengenal Kwan Im dan menyebutnya dengan nama Chenrezig. Dalai Lama sering dianggap sebagai reinkarnasi dari Kwan Im di dunia.
Jauh sebelum masuknya agama Buddha, menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su yaitu Dewi Welas Asih Berbaju Putih. Kwan Im (Hanzi:::;Pinyin: Guan Yin) sendiri adalah dialek Hokkian yang dipergunakan mayoritas komunitas Cina di Indonesia. Nama lengkap dari Kwan Im adalahKwan She Im Phosat (Hanzi::::, pinyin: Guan Shi Yin Pu Sa) yang merupakan terjemahan dari nama aslinya dalam bahasa Sanskrit,Avalokitesvara.
Nama Lain
Kwan Im di Asia Timur, dikenal dengan berbagai nama. Akan tetapi “Kwan Im” atau “Kwan Tse Im” masih merupakan panggilan sederhana yang diberikan untuknya. Berikut adalah beberapa panggilan atau sebutan yang diberikan berdasarkan negara tertentu:
Di negara Jepang, Kwan Im Pho Satlebih dikenal dengan nama Dewi Kannon (::) atau secara resmiKanzeon (:::). Dalam bahasaKorea disebut Gwan-eum atauGwanse-eum, dalam bahasaThailand dikenal sebagai Kuan Eim(::::::) atau Prah Mae Kuan Eim(:::::::::), di Hongkong (propinsi Guang Dong); Kwun Yum atau Kun Yum, pelafalan ini berdasarkan bahasa Kanton, dan dalam bahasaVietnam, Quán Âm atau Quan Th: Âm B: Tát.
Arti Nama
Pengertian Avalokitesvara Boddhisatva dalam bahasa Sansekerta adalah :Valokita (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna “Melihat ke bawah atau Mendengarkan ke bawah”. Bawah di sini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita).· Svara (Im / Yin) berarti suara. Yang dimaksud adalah suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas penderitaan yang dialaminya. Oleh sebab itu Kwan Im adalah Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang.
Masa Kecil Kwan Im
Dewi Kwan Im (Miao San ) lahir pada tanggal 19 bulan 2 tahun Kongcu – lik, pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 Sebelum Masehi.Pada tanggal 19 bulan 6 yaitu pada usia 17 tahun memperoleh Penerangan dan mencapai tingkatan Boddisattva / Hud / Fo. Pada tanggal 19 bulan 9 di tahun yang sama, mencapai kesempurnaan dan berhasil Mokswa, naik ke langit bersama badan kasarnya menjadi Kwan Se Yin Pao Sat Jien So Jien Yen atau Dewi Kwan Im Tangan Seribu – Mata Seribu – Kepala Seribu. Dewi Kwan Im selalu membawa botol Amertha atau wadah suci berisi Embun Welas Asih yang berkhasiat mensucikan segala kotoran ( dosa ) serta menyembuhkan.
Kendaraan Dewi Kwan Im
Dewi Kwan Im Miao San mengendarai Ikan Tombro yaitu lambang keteguhan menghadapi tantangan (seperti Ikan Tombro berenang melawan arus meloncati jeram) jadi seruan agar umat teguh tekadnya dan kuat menghadapi tantangan di dunia dengan jalan yang benar. Bertangan Seribu, Bermata Seribu bahkan Berkepala Seribu lambang bisa mampu menjangkau berbagai hal, Penyayang dan penuh Welas Asih.Kadang naik Bunga Teratai lambang Kesucian yang selalu bersih, biarpun tumbuh di atas Lumpur, agar umat meneladani makna yang tersirat dalam kehidupannya.
Perwujudan Kwan Im
Kwan Im (Avalokitesvara) sendiri asalnya digambarkan berwujud laki-laki diIndia, begitu pula pada masa menjelang dan selama Dinasti Tang (tahun 618-907). Namun pada awal Dinasti Sung (960-1279), berkisar pada abad ke 11, beberapa dari pengikut melihatnya sebagai sosok wanita yang kemudian digambarkan dalam para seniman.Perwujudan Kwan Im sebagai sosok wanita lebih jelas pada masa Dinasti Yuan (1206-1368). Sejak masa Dinasti Ming, atau berkisar pada abad ke 15, Kwan Im secara menyeluruh dikenal sebagai wanita.
Bila sudah mencapai taraf Buddha sudah tidak lagi terikat dengan bentuk apalagi gender, karena pada dasarnya roh itu tidak mempunyai bentuk fisik dan gender. Menurut cerita, Dewi Kwan Im adalah titisan Dewa Che Hangyang ber-reinkarnasi ke bumi untuk menolong manusia keluar dari penderitaan, karena beliau melihat begitu kacaunya keadaan manusia saat itu dan sebagai akibatnya terjadi penderitaan di mana-mana.
Dewa Che Hang memilih wujud sebagai wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolonganNya. Disamping itu agar lebih bisa meresapi penderitaan manusia, bila dalam bentuk wanita, karena di jaman itu, wanita lebih banyak menderita dan kurang leluasa dalam membuat keputusan.
Dalam sejumlah kitab Budhisme Tiongkok klasik, seperti Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biau Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 penjelmaan Kwan Im Pho Sat, antara lain :
1.Kwan Im Berdiri Menyeberangi Samudera;
2.Kwan Im Menyebrangi Samudera sambil Berdiri diatas Naga;
3.Kwan Im Duduk Bersila Bertangan Seribu;
4.Kwan Im Berbaju dan Berjubah Putih Bersih sambil Berdiri;
5.Kwan Im Berdiri Membawa Anak;
6.Kwan Im Berdiri diatas Batu Karang/Gelombang Samudera;
7.Kwan Im Duduk Bersila Membawa Botol Suci & Dahan Yang Liu;
8.Kwan Im Duduk Bersila dengan Seekor Burung Kakak Tua.
Selain perwujudan yang beraneka bentuk dan posisi, nama atau julukan Kwan Im (Avalokitesvara) juga bermacam-macam, ada Sahasrabhuja Avalokitesvara (Qian Shou Guan Yin), Cundi Avalokitesvara, dan lain-lain. Walaupun memiliki berbagai macam rupa, pada umumnya Kwan Im ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan, dengan wajah penuh keanggunan.
Selain itu, Kwan Im Pho Sat sering juga ditampilkan berdampingan denganBun Cu Pho Sat dan Po Hian Pho Sat, atau ditampilkan bertiga dengan :Tay Su Ci Pho Sat (Da Shi Zhi Phu Sa) – O Mi To Hud – Kwan Im Pho Sat.
Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou)ada 84 perwujudan Dewi Kwan Im sebagai simbol dari Bodhisatva yang mempunyai kekuasaan besar.
Altar utama di Kuil Pho To Sandipersembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan sebagaiBudha Vairocana, dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 perwujudan lainnya. Perwujudan Beliau di altar utama Kim Tek Ie (salah satuKelenteng tertua di Indonesia adalahKing Cee Kwan Im (Kwan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma kepada umat manusia).
Disamping itu terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Qian Shou Guan Yin (Kwan Im Seribu Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatNya. Julukan Beliau secara lengkap adalah Tay Cu Tay Pi – Kiu Kho Kiu Lan – Kong Tay Ling Kam – Kwan Im Sie Im Pho Sat.
Ketika agama Buddha memasuki Tiongkok (Masa Dinasti Han), pada mulanya Avalokitesvara Bodhisattva bersosok pria. Seiring dengan berjalannya waktu, dan pengaruh ajaran Taoisme serta Kong Hu Cu, menjelang era Dinasti Tang, profil Avalokitesvara Bodhisattva berubah dan ditampilkan dalam sosok wanita.
Dari pengaruh ajaran Tao, probabilita perubahan ini terjadi karena jauh sebelum mereka mengenal Avalokitesvara Bodhisattva, kaum Taois telah memuja Dewi Tao yang disebut “Niang-Niang” (Probabilitas adalah Dewi Wang Mu Niang-Niang). Sehubungan dengan adanya legenda Puteri Miao Shan yang sangat terkenal, mereka memunculkan tokoh wanita yang disebut“Guan Yin Niang Niang”, sebagai pendamping Avalokitesvara Bodhisattva pria.
Lambat laun tokoh Avalokitesvara Bodhisattva pria dilupakan orang dan tokoh Guan Yin Niang-Niang menggantikan posisinya dengan sebutan Guan Yin Phu Sa. Dari pengaruh ajaran Kong Hu Cu, mereka menilai kurang layak apabila kaum wanita memohon anak pada seorang Dewa. Bagi para penganutnya, hal itu dianggap sesuai dengan keinginan Kwan Im sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai seorang wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolongan.
Dari sini jelas bahwa tokoh Avalokitesvara Bodhisattva berasal dari India dan tokoh Guan Yin Phu Sa berasal dari Tiongkok. Avalokitesvara Bodhisattva memiliki tempat suci di gunung Potalaka, Tibet,Pu Tao Shan sedangkan Kwan Im Pho Sat memiliki tempat suci di gunung di kepulauan Zhou Shan,Cina. Kesimpulan atas hal ini adalah tokoh Avalokitesvara Bodhisatva merupakan stimulus awal munculnya Kwan Im Pho Sat.
Dalam kepercayaan Buddhisme yang berkembang pesat di China, diyakini bahwa segala permohonan yang berangkat dari ketulusan dan niat suci, maka biasanya Dewi Kwan Im akan mengabulkan permintaan tersebut.Terutama pada saat-saat genting dimana seseorang tengah berhadapan dengan bahaya. Sehingga dalam kurun ribuan tahun, pengabdian moral dari Dewi Kwan Im dikenal galib berporos empat jalan kebenaran. Yakni, pengembangan kebajikan, pengembangan toleransi dan saling hormat menghormati, pengendalian batin dan mawas diri, serta menghindarkan dari marabahaya.
Sejarah asal usul dewi Kwam Im Seribu Tangan
Menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Tooyang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im (Miao San ) lahir pada tanggal 19 bulan 2 tahun Kongcu – lik, pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 Sebelum Masehi. Terkait dengan legenda puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang / Miao Chiang / Miao Tu Huang, penguasa negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad ke-3 SM. Dinasti Zhou sendiri berkuasa dari tahun 1122 – 255 SM.
Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tetapi yang dimilikinya hanyalah 3 orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu, yang kedua bernama Miao Yin El, dan yang bungsu bernama Miao Shan.
Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Ia malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhikunidi Klenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan).
Miao Yin El menikah serta di kemudian hari menurunkan Raja Miao Li yang mempunyai putri bernama Yu Lan. Miao Shu dan Miao Yin lebih cenderung dimanja oleh fasilitas istana dan berfoya-foya. Sementara Miao Shan dengan rajin menjaga dan merawat kedua orang tua mereka. Dari ketiga putri sang Raja, putri ketiga lah yang sangat berbakti kepada kedua orangtua serta leluhurnya. Ia juga memperlihatkan sifat welas asih kepada semua makhluk. Itu sebabnya ia sudah vegetarian sejak balita.
Dikisahkah, saat masih bayi, bila Miao Shan mendengar kata “bunuh”, ia akan menangis sekeras-kerasnya dan tidak mau bila diberi makan daging saat balita. Toleransinya kepada dayang-dayang istana sangat besar sehingga ia disayangi oleh semua pihak. Ia selalu mengaplikasikan bentuk-bentuk kebajikan Buddhisme yang ia pelajar dan dilakukan ke dalam hidup sehari-harinya.
Hal tersebut menimbulkan iri hati dan benci dari kedua kakak perempuannya, sehingga dengan intrik dan hasutan jahat bekerja sama dengan seorang peramal tua yang jahat akhirnya Miao Shan diusir dari istana. Miao Shan dituduh titisan dari iblis jahat, sehingga negeri mereka yang dulunya makmur, sekarang selalu dirundung bencana. Padahal bencana dan masalah datang, karena banyak pejabat istana termasuk si peramal tua jahat itu terlibat korupsi besar-besaran, bahkan si peramal tua berambisi mengambil tahta Sang Raja.
Kelompok jahat itu mengklaim sejak Miao Shan lahir bencana susul menyusul tiada henti. Kalau bukan kekeringan, pasti kebanjiran. Kalau bukan kelaparan pasti wabah penyakit. Sehingga Miao Shan dianggap jelmaan iblis yang dikutuk oleh langit.
Dalam pengembaraannya Miao Shan mengabdikan diri sebagai samaneri(calon biksu perempuan). Tahun berganti tahun, akhirnya Sang Raja, ayahanda Miao Shan menjadi sakit-sakitan karena merasa rindu pada putri bungsunya tersebut. Sampai akhirnya sang Raja menderita penyakit aneh yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bisul dan borok tak tersembuhkan. Disinyalir ada hubungannya dengan ilmu iblis yang dipelajari oleh peramal tua yang mengincar tahtanya. Bahkan Raja menjadi buta dan permaisuri menjadi kelainan jiwa akibat merindukan putri bungsu mereka.
Miao Shan yang merasa iba, berkat kesaktiannya, mengubah dirinya menjadi seorang bikkhuni. Ia mendatangi istana, dan menjenguk ayahandanya yang terkapar sakit, dengan dalih sebagai tabib. Setelah Miao Shan membacakan paritta , ayah ibunya itu merasakan damai yang tiada tara, sehingga mereka tertidur dengan damai. Namun dalam penyamarannya itu, Ia bukannya hanya mengobati, tetapi juga memberi petunjuk bahwa Sang Raja menderita penyakit aneh, dan hanya dapat sembuh jika mengkonsumsi sekerat daging manusia dan sebiji bola mata yang berasal dari tubuh putri kandungnya. Tentu saja ayah ibunya tidak mendengar hal ini karena sudah tertidur, kalau mendengar mungkin mereka tidak berkenan menjalankan pengobatan.
Dihadapan ibu suri dan kedua kakaknya, Miao Shan membeberkan cara pengobatan aneh itu. Di saat meminta kedua kakak perempuannya untuk berkorban diiris otot lengan dan dicungkil sebelah bola matanya untuk dicampur pada obat bagi ayah mereka, saat itu juga keduanya berlutut di samping ranjang ayahanda mereka, menangis tersedu-sedu.
“Oh, Ayahanda, kasihanilah saya Miao Shu. Saya masih memiliki anak yang masih kecil-kecil dan mereka masih membutuhkan saya untuk membesarkan mereka.”
Tak lama berselang, Miao Yin menyusul dengan kalimat bernada serupa. Kali ini tangisnya lebih deras. tiba-tiba Sang Bhikuni(Miao Shan) menengahi, dengan bijak ia berkata.”Kalau begitu biarkan daging dan bola mata saya saja yang dikorbankan untuk kesembuhan Baginda.” Saat itu kedua kakaknya belum menyadari yang dihadapan mereka adalah adik bungsunya Miao Shan, oleh karena dandanannya yang sederhana sebagai biksuni dan juga karena sekian tahun lamanya mengembara di luar.
Setelah mengiris sekerat otot lengan dan mencongkel bola matanya sendiri dengan belati tanpa rasa takut, dengan tenang serta penuh keikhlasan, ia memberikan bagian-bagian tubuhnya itu untuk campuran ramuan obat untuk ayah ibunya. Saat mengaduk-aduk ramuan obat itu, terjadi keajaiban. Ramuan obat itu memancarkan harum wangi dupa dan memenuhi seluruh penjuru istana.
Raja Miao Zhuang setelah meminum “obat mujarab” tersebut sembuh seketika dan matanya dapat melihat kembali. Atas jasanya, Raja menanyakan apa yang diinginkan oleh Miao Shan yang masih belum dikenali oleh mereka. “Hamba tidak menginginkan bayaran apapun, hamba hanya berbuat baik untuk menyebarkan dharma dan ajaran sang Buddha.” Demikian kata Miao Shan.
“Minimal apa ada permintaan biksuni agar kami tidak merasa terlalu sungkan karena tidak memberikan apa-apa.” Kata Sang Raja.
Terdiam sejenak, kemudian Miao Shan melanjutkan. “Hamba sudah lama kehilangan ayah dan ibu, bolehkan hamba memeluk Baginda dan Permaisuri sehingga kerinduan akan ayah-ibu bisa terobati?”
“Ha? Sesederhana itu? Kenapa tidak boleh… silahkan.” Sahut sang Raja.
Miao Shan menunduk dan menghampiri ayah bundanya itu, setelah bersujud di pelukan Raja ia kemudian berpindah ke pelukan permaisuri dengan airmata berlinang dan suara isak tangis. “Ibu, maafkan anak yang tidak berbakti” demikian Miao Shan berbisik. Karena jarak dekat, permaisuri baru menyadari kalau itu adalah putri bungsunya yang telah diusir dari istana akibat konspirasi pejabat yang tidak setia. Raja yang kaget dan senang bukan kepalang memeluk tubuh putri bungsunya itu dengan airmata berlinang.
Sejak itulah kebajikan dan keluhuran budi Miao Shan menjadi legenda di tanah Tiongkok. Ia menggugah ketulusan tanpa pamrih, pengorbanan tanpa batas, sifat welas asih yang tiada tara, dan masih banyak lagi kemuliaan yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Setelah peristiwa fenomenal tersebut, Miao Shan tetap bertekad melanjutkan pertapaannya dengan menjadi biksuni sepanjang hidup dan pengabdiannya. Meski berat hati, tapi Raja Miao Zhung dan permaisurinya merelakan putri bungsunya tersebut, memaklumi niatnya untuk mengabdi bagi kemanusiaan.
Untuk mengenang putri bungsunya tersebut, Raja Miao Zhung memerintahkan pekerja seni rupa terbaik di negerinya membuat patung berwujud putri Miao Shan dan mendirikan vihara Dewi Kwan Im pertama diPho To San
“Putri saya, Miao Shan, ibarat memiliki seribu tangan untuk membantu sesama dengan tulus serta ikhlas, dan seribu mata yang peka melihat penderitaan rakyat jelata!” demikian kata Raja Miao Zhuang dalam nada bangga, yang ternyata salah ditanggapi oleh para pemahat arca istana. Arca rampung dengan memiliki simbolisasi seribu tangan dan seribu mata. Itulah awal ihwal Miao Shan yang melegenda menjadi Qian Shou Guan Yin (Dewi Kwan Im Seribu Tangan).
Dikisahkan ketika Miao Shan berhasil mencapai pencerahan menjadi Buddha, saat hendak memasuki gerbang Nirwana, ia mendengar banyak tangisan penderitaan dari alam manusia di bawah. Ia kemudian membatalkan memasuki Nirwana dan memilih berada di alam manusia untuk membantu setiap makhluk hidup, karena masih mendengar tangisan penderitaan manusia. Ia senantiasa menyingkirkan segala macam penderitaan dan menumbuhkan kebahagiaan dengan mewujudkan permintaan kesejahteraan kaum papa.
Turun temurun masyarakat Tionghoa sangat menghormati Dewi Kwan Im. Hampir di setiap rumah penganut Konfusiunisme dan klenteng-klentengpasti memiliki rupam atau diorama puja untuk mengenang jasa dan kebaikanNya.
Selain itu, menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada zaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 SM terkait dengan legenda Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM.
Disebutkan bahwa Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tapi yang dimilikinya hanyalah 3 (tiga) orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu (Biao Yuan), yang kedua bernama Miao Yin (Biao In) dan yang bungsu bernama Miao Shan (Biao Shan).
Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Ia malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhikuni diKlenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan).
Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Ia malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhikuni diKlenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan).
Kematian dan di alam baka
Berbagai cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali dan menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh dalam pendirianNya. Pada suatu ketika, Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan memerintahkan para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri.
Setelah kematianNya, arwah Puteri Miao Shan mengelilingi neraka. Karena melihat penderitaan makhluk-makhluk yang ada di neraka, Puteri Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka berbahagia. Secara ajaib, doa yang diucapkan dengan penuh welas asih, tulus dan suci mengubah suasana neraka menjadi seperti surga.
Penguasa Akherat, Yan Luo Wang, menjadi bingung sekali. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk kembali ke badan kasarNya. Begitu bangkit dari kematianNya, Buddha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan memberikan Buah Persik Dewa. Akibat makan buah tersebut, sang Puteri tidak lagi mengalami rasa lapar, ke-tuaan dan kematian. Buddha Amitabha lalu menganjurkan Puteri Miao Shan agar berlatih kesempurnaan di gunung Pu Tuo, dan Puteri Miao Shan-pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau jelmaan dari Dewa Bumi.
Menyelamatkan raja
Sembilan tahun berlalu, suatu ketika Raja Miao Zhuang menderita sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat telah dicoba, namun semuanya gagal. Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lalu menyamar menjadi seorang Pendeta tua dan datang menjenguk. Namun terlambat, sang Raja telah wafat.
Dengan kesaktianNya, Puteri Miao Shan melihat bahwa arwah ayahNya dibawa ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat. Karena rasa bhaktiNya yang tinggi, Puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong. Pada saat akan menolong ayahNya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahNya diserbu setan-setan kelaparan. Agar mereka dapat melewati setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan kelaparan.
Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang menyadari bahwa bhakti ketiga putrinya sangat luar biasa. Akhirnya sang Raja menjadi sadar dan mengundurkan diri dari pemerintahan serta bersama-sama dengan keluarganya pergi ke gunung Xiang Shan untuk bertobat dan mengikuti jalan Buddha. Rakyat yang mendengar bhakti Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tanganNya menjadi sangat terharu. Berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk Puteri Miao Shan.
Buddha O Mi To Hud (amitabha) yang mengetahui hal itu segera menolong dan memberikan “Seribu Tangan dan Seribu Mata, sehingga Beliau dapat mengawasi dan memberikan pertolongan lebih banyak kepada manusia. Buddha O Mi To Hud yang melihat ketulusan rakyat, juga merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahNya menjadi suatu bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan. Lalu Ji Lay Hud memberiNya gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi Guan Shi Yin Phu Sa, yang artinya Bodhisatva Kwan Im Penolong Kesukaran Yang Bertangan Dan Bermata Seribu Yang Tiada Bandingnya, Buddha O Mi To Hud (Amitabha)
Dalam kisah lain disebutkan bahwa pada saat Kwan Im Phu Sa diganggu oleh ribuan setan, iblis dan siluman, Beliau menggunakan kesaktianNya untuk melawan mereka. Ia berubah wujud menjadi Kwan Im Bertangan dan Bermata Seribu, dimana masing-masing tangan memegang senjata Dewa yang berbeda jenis.
Kisah Kwan Im Lengan Seribu ini juga memiliki versi yang berbeda, diantaranya adalah pada saat Puteri Miao Shan sedang bermeditasi dan merenungkan penderitaan umat manusia, tiba-tiba kepalanya pecah berkeping-keping.
Asal usul kisah 2 pembantu DewinKwam Im
Dalam legenda Puteri Miao Shan, disebutkan bahwa kakak-kakak Miao Shan bertobat dan mencapai kesempurnaan, lalu mereka diangkat sebagai Pho Sat oleh Giok Hong Siang Te. Puteri Miao Shu diangkat sebagai Bun Cu Pho Sat (Wen Shu Phu Sa) dan Puteri Miao Yin sebagai Po Hian Pho Sat (Pu Xian Phu Sa). Disebutkan juga bahwa pada saat pelantikan Puteri Miao Shan menjadi Pho Sat, Puteri Miao Shan diberi 2 (dua) orang pembantu, yakni Long Ni dan Shan Cai. Konon, Long Ni diberi gelar Giok Li (Yu Ni) atau “Gadis Kumala” dan Shan Cai bergelar Kim Tong (Jin Tong)atau “Jejaka Emas”.
Pada mulanya, Long Ni adalah cucu dari Raja Naga (Liong Ong), yang diberi tugas untuk menyerahkan mutiara ajaib kepada Kwan Im, sebagai rasa terima kasih dari Liong Ong karena telah menolong puterinya. Namun ternyata Long Ni justru ingin menjadi murid Kwan Im dan mengabdi kepadaNya. Khusus untuk Shan Cai ada 2 (dua) versi legenda. Versi pertama berdasarkan legenda Puteri Miao Shan yang menceritakan bahwa Shan Cai adalah pemuda yatim piatu yang ingin belajar ajaran Buddha. Ia ditemukan oleh To Te Kong dan diserahkan kepada Kwan Im untuk dididik.
Versi lain dalam cerita Se Yu Ki (Xi You Ji) menyebutkan bahwa Shan Cai adalah putera siluman kerbau Gu Mo Ong (Niu Mo Wang) dengan Lo Sat Li (Luo Sa Ni). Nama asliNya adalah Ang Hay Jie (Hong Hai Erl) atau si Anak Merah. Karena kenakalan dan kesaktian Ang Hay Jie, Sang Kera Sakti Sun Go Kong / Sun Wu Kong meminta bantuan kepada Kwan Im Pho Sat untuk mengatasiNya.
Akhirnya Ang Hay Jie berhasil ditaklukkan oleh Kwan Im Pho sat dan diangkat menjadi muridNya dengan panggilan Shan Cai. Dalam hal ini, banyak orang yang salah mengerti dan menganggap bahwa salah 1 (satu) pengawal Kwan Im Po Sat adalah Lie Lo Cia (Li Ne Zha), yang penampilanNya memang mirip dengan Ang Hay Jie. Secara khusus terdapat perbedaan diantara keduaNya, Lie Lo Cia menggunakan senjata roda api di kakiNya, sedangkan Ang Hay Jie menggunakan semburan api dari mulutnya. Lie Lo Cia adalah anak dari Lie King dan Ang Hay Jie adalah anak dari Gu Mo Ong.
Demikian cerita singkat tentang Dewi Kwam Im, yg ku rangkum dr berbagai sumber yg ku baca, agar para pembaca tau tentang kebaikan serta kebajikan yang diperbuat Nya.
Posted via Blogaway
Jumat, 13 Maret 2015
Ksitigarbha Bodhisatva atau Di Zang Wang Pu Sa
Di Zang Pu Sa (Tee Cong Po Sat - Hokkian) atau Ksitigarbha Boddhisatva disebut juga Di Zang Wang Pu Sa. (Tee Cong Ong Po Sat - Hokkian) atau You Ming Jiao Zhu (Yu Beng Kau Cu - Hokkian) dan Feng Du Da Di (Maha Raja Feng-du), merupakan dewata Buddhisme yang paling banyak di puja oleh masyarakat disamping Guan Yin. Pemujaannya tidak hanya terbatas di Tiongkok saja tapi juga menyebar ke Korea dan Jepang. Di Zang berarti "semua kekayaan yang disimpan dalam bumi", perkataan ini merupakan terjemahan langsung daii Ksitrigarbha dalam bahasa Sanskeskera Di Zang Pu Sa adalah saiah satu dari 4 Boddhisatva yang sangat dihormati oleh kaum Mahayana. Keempat Boddhisatva itu masing - masing memiliki empat
kwalitas dasar :
1). Guan Yin sebagai lambang Welas Asih.
2). Wen Shu sebagai lambang Kebijaksanaan.
3). Pu Xian sebagai lambang Kasih dan kegiatan.
4). Di Zang sebagai lambang Keagungan dalam sumpah untuk menolong dan melepaskan roh - roh yang sengsara.
Sumpah Agungnya yang penuh rasa welas asih berbunyi "kalau bukannya aku sendiri yang pergi ke neraka untuk menolong roh - roh yang tersiksa di sana siapa yang akan pergi?
kalau neraka belum kosong dari arwah - arwah yang tersiksa, aku tidak akan menjadi Buddha. Hanya bila semua mahluk telah diselamatkan, barulah aku mencapai tingkat keBuddhaan".
Dimata orang Tionghoa, Di Zang Wang adalah Dewa Pelindung bagi arwah-arwah yang sedang menderita sisksaan di neraka, agar mereka dapat lekas dibebaskan dan menitis kembali. Sering juga ia dikaitkan dengan sepuluh Raja Akherat (Shi Tian Yan Wang). Kesepuluh Raja Akherat itu adalah bawahannya langsung, sebab itu ia diberi gelar You Ming Jiao Zhu atau Pemuka Agama di akherat. Ia menjadi pelindung para arwah, membimbing mereka agar insyaf dari perbuatannya yang sudah - sudah, dan tak akan mengulang perbuatan tercela itu, agar bisa terbebas dari karma buruk pada penitisan yang akan datang.
Dikalangan rakyat banyak beredar kisah - kisah yang ada hubungannya dengan Di Zang Wang. Diantara kisah - kisah itu ada banyak juga yang menyamakan Di Zang Wang dengan Mu Lian. Kisah Mu Lian banyak mengharukan orang, tentang bagaimana ia menolong ibunya dari siksaan di neraka. Mu Lian oleh sementara orang dianggap sebagai Di Zang Wang. Sesungguhnya kalau kita meneliti kitab - kitab suci, Mu Lian adalah murid Buddha dan masuk jajaran Luo Han atau Arhad dan bukannya Di Zang yang berada dalam tingkatan Boddhisatva. Tentang Di Zang Wang, dalam kitab Buddha tercatat sebagai berikut:
"Ketika Buddha Sakyamuni telah menyelesaikan tugasnya dan masuk nirwana, 1.500 tahun kemudian ia menitis kembali ke dunia di Korea, sebagai seorang pangeran dari keluarga raja negeri Sinlo. Namanya Jin Qiao Jue (Kim Kiauw Kak - Hokkian). Sebab itu setelah orang tahu bahwa ia adalah penitisan Buddha, maka mereka memanggilnya Jin Di Zang. Konon wataknya sederhana, tidak kemeruk pangkat dan kemewahan, tapi sangat berbudi, welas asih. Ia sangat gemar mendalami ajaran Kong - zi dan Buddha. Pada masa pemerintah;, kaisar Tang Gao Zong, tahun Yong Wei ke-empat (yaitu tahun 653 Masehi), Jin Qiao Jue yang pada waktu itu berumur 24 tahun dengan membawa seekor anjing yang diberi nama Shan - ting (artinya harfiah "pandai mendengar"), berlayar menyeberangi lautan, kemudian sampai di pegunungan Jiu Hua Shan di propinsi Anhui.
Gunung Jiu Hua Shan sebetulnya adalah milik Min Gong (Bin Kong - Hokkian). Min Gong ini sangat berbudi, suka menolong orang - orang yang tertimpa kemalangan. Ia berjanji untuk menyediakan makanan vegetarian (Gakjay) untuk 100 orang pendeta Buddha. Tapi, tiap kali ia hanya dapat mengumpulkan 99 orang, tidak pemah berhasil memenuhi jumlah yang diinginkannya. Oleh karena itu, kali ini ia pergi sendiri ke gunung untuk mencari pendeta yang ke - 100. Ketika dilihat Jin Qiao Jue sedang bersemedi disebuah gubug, ia segera menghampirinya dan mengundangnya datang ke rumah untuk bersantap bersama - sama. Jin Qiao Jue yang melihat Min Gong kelihatannya ada jodoh dengan dia, lalu mengabulkan undangannya, tapi mengajukan satu permintaan. Permintaannya tidak banyak, ia hanya menginginkan sebidang tanah di Jiu Hua Shan itu, seluas baju kasanya (Jubah Suci Pendeta Buddha) apabila ditebarkan. Melihat permintaan yang hanya sepele itu, Min Gong langsung mengiakan. Tapi keanehan lalu ieijadi. Ternyata ketika Jin Qiao Jue menebarkan baju kasa nya keudara, seketika itu juga baju pusaka itu berubah menjadi sangat besar sekali sehingga dapat menutup seluruh pegunungan itu.
Begitulah Min Gong lalu menyerahkan Jiu Hua Shan kepada Qiao Jue yang digunakan untuk mendirikan tempat ibadat dan mengajar dharma. Min Gong bahkan menyuruh anak laki - lakinya ikut menemani Jin Qiao Jue menjadi pendeta. Putra Min Gong ini kemudian disebut Dao Ming He Sang (To Bing Hwee Shio - Hokkian). Selanjutnya Min Gong pun meninggalkan semua kehidupannya yang penuh kemewahan ikut menjadi penganut Jin Qiao Jue dan mengangkat Dao Ming He Sang, putranya sendiri, menjadi gurunya, untuk mensucikan diri di gunung Jiu Hua Shan.
Dewasa ini, gambar maupun patung - patung pemujaan Di Zang Wang, tentu dilengkapi dengan seorang pendeta muda yang berdiri disebelah kiri,dan seorang tua berdiri disebelah kanannya. Itulah Dao Ming He Sang dan Min Gong.
Jin Qiao Jue atau Di Zang Pu Sa bertapa di gun-.ng Jiu Hua Shan tujuh puluh lima tahun lamanya, dengan ditemani oleh anjingnya yang setia
Pada usia 99 tahun, beliau berpulang tepat dengan tanggai 30 bulan 7 penanggalan Imlik.
Ada juga yang mengatakan bahwa pada waktu Di Zang Wang telah berusia lanjut, seorang cendikiawan kenamaan Zhuge Jie, bersama - sama temannya sedang bertamasya ke gunung untuk mencari hawa segar. Sampai dicadas Qing Qi Yan, ia melihat Di Zang Wang sedang bersemedi dengan tekun, makannya hanya nasi putih yang dimasak encer di atas tungku dari tanah, diam - diam timbul rasa hormatnya. Ia lalu memprakarsai pengumpulan uang untuk mendirikan kuil di atas gunung Jiu Hua Shan. Sejak itu
para pendeta dari berbagai tempat mendatangi Di Zang Wang untuk menerima ajarannya.
Jin Qiao Jue meninggal pada tahun pemerintahan kaisar Xuan Zong dari dinasti Tang (728 Masehi) tanggal 30 bulan 7 Imlik. Inilah mengapa pada tiap jatuh tanggal tersebut masyarakat banyak membakar hio yang disebut Di Zang Xiang (Te Cong Kio - Hokkian) atau dupa Di Zang. Jenasah Jin Qiao Jue ditempatkan pada sebuah gua batu kecil. Sampai pada suatu ketika jenasah dikeluarkan. tetapi dalam keadaan baik dan tidak membusuk, wajahnya hanya seperti orang tidur.
Pada masa pemerintahan kaisar Xiao Zong, para penganutnya membangun sebuah pagoda di Nan - Tai (salah satu puncak di Jiu Hua Shan) dan menempatkan abunya disitu. Takkala pagoda itu sudah selesai dibangun dan abu telah ditempatkan, ternyata pagoda itu telah mengeluarkan sinar yang gilang-gemilang, sehingga mengherankan orang yang ada di situ. Tempat itu lalu diubah namanya menjadi Shen Guang Ling yang berarti Bukit Cahaya Malaikat. Sejak itu Jiu Hua Shan menjadi salah satu gunung suci untuk umat Buddha.
Harus diketahui bahwa di Tiongkok terdapat 4 gunung suci untuk umat Buddhist.
Yang pertama Jiu Hua Shan di propinsi Anhui, kedua Wu Tai Shan dipropinsi Shanxi, ketiga E Mei Shan di propinsi Sichuan dan keempat Pu Tuo Shan di propinsi Zhejiang.
Jiu Hua Shan yang merupakan gunung suci buat umat Buddha sebenar nya adalah salah satu cabang dari pegunungan Huang Shan, tingginya kira - kira 1.000m. Karena 9 puncaknya berbentuk seperti bunga yang sedang mekar, maka orang - orang menamakannya Jiu Hua Shan. Di situ terdapat 108 buah kuil Buddha Yang tertua adalah Hua Cheng Si, dulu pada tiap tanggal 30 bulan 7 Imlik, banyak para umat yang berbondong - bondong kemari untuk merayakan ulang tahun Di Zang Wang. Bangunan kelenteng Hua Cheng Si sangatlah indah penuh ukiran kayu dan batu yang bermutu tinggi sehingga para pengunjung dapat menikmati suatu karya seni Tiongkok kuno yang betul - betul bernilai. Kecuali itu tulisan dan prasasti yang ditulis oleh para kaisar - kaisar yang berkunjung kemari merupakan peninggalan sejarah yang patut dinikmati. Ruang utama kelenteg tersebut yang disebut Yue Shen Bao Dian, merupakan tempat dimana Zang Wang berpulang. Dalam ruang ini terdapat batu yang tercatat telapak kakinya, para pengunjung yang memasukki ruangan ini selalu berdoa sambil membakar dupa.
Di Zang Wang Pu Sa ternyata dipuja tidak hanya dikalangan Buddha saja. Dalam masyarakat pemujaannya juga sangat populer. Upacara perayaan Zang Wang, ternyata berbeda - beda di berbagai daerah, tapi dapat kami katakan disini bahwa perayaan yang paling meriah dan megah adalah yang lakukan rakyat dari propinsi Zhejiang. Di desa Xi di propinsi Guangdong, ada upacara yang disebut Yuan-xian
Dalam upacara ini, empat sudut tembok pagar rumah ditancapi hio, baru kemudian disediakan perbagai persajian, lilin dan kertas uang untuk dibakar setelah upacara selesai. Pada tanggai itu itu berbagai tempat yang termasuk propinsi Guangdong ada upacara yang disebut "Ji-ku" yang berarti "mengantar tabungan". Dalam upacara ini uang kertas emas dan perak bersama - sama baju - baju kertas dimasukkan kedalam sebuah peti kertas, setelah dipersembahkan dihadapan Di Zang Wang, benda tersebut dibak
Maksudnya agar Di Zang Wang mau menyimpankan tabungan mereka itu di akherat, sedang kuncinya yang juga dari kertas disimpan oleh si pengirim barang. Kalau si pemegang kunci meninggal dunia, anak cucunya membakar kunci kertas tersebut, agar dapat disertakan oleh simati dan digunakan untuk membuka peti tabungannya setelah diterima kembali dari Di Xang Wan
Upacara - upacara ini sekarang sudah jarang terlihat.
Menurut buku "Catalan dari Beijing", pada malam peringatan hari lahir Zang Wang itu, diadakan sembahyang dan diadakan pembacaan parita kelenteng - kelenteng seputar kota itu. Juga dipersiapkan sebuah perahu dari kertas dan bambu, didalamnya ditempatkan patung Di Zang Wang di kesepuluh raja akherat yang juga terbuat dari kertas. Tengah malam setelah upacara sembahyang selesai, lilin ditengah perahu itu dinyalakan dan perahu itu diturunkan ke air dan dibiarkan menga'ir kemana saja. Masyrakat yang menunggu di tepi sungai juga melepaskan lilin kecil yang diapungkan di atas piring kertas dan mengalir mengikuti perahu itu. Upacara ini disebut "Liu Hua Deng" atau "mengalirkan lentera bunga". Propinsi - propinsi lain seperti Jiangsu, Zhejiang juga mempunyai kebiasaan seperti itu, meskipun dengan variasi yang berbeda - beda.
Kecuali dipuja dikuil - kuil yang bercorak Buddha. Di Zang Wang banyak ditemui di kelenteng - kelenteng keluarga atau rumah - rumah abu dan tempat pembakaran mayat. Tujuannya adalah roh nenek moyang mereka memperoleh perlindungan dari Di Zang Wang agar lebih cepat memperoleh pembebasan siksaan di neraka dan menjelma kembali. Kadang - kadang upacara di situ dilakukan secara Taoist, tapi bagi masyarakat umum hal ini tidak jadi persoalan, yang perlu bagi mereka adalah sembahyangan itu sendiri, tanpa memperdulikan apakah itu dari aliran Tao atau Buddhis.
Di Zang Wang ditampilkan dalam keadaan duduk di atas teratai atau berdiri, memakai topi Buddha berdaun lima dengan wajah yang memancar sinar kasih, membawa tongkat bergelang seperti yang umumnya ini disebut Khakhara. Gelang - gelang yang ada diujung tongkat itu akan gemerincing berdering, kalau dibawa beijalan, suara ini diharapkan dapat membuat binatang - binatang kecil atau serangga menyingkir agar tidak terinjak sang pendeta, sebab salah satu prinsip agama Buddha adalah tidak membunuh mahluk hidup.
Di Zang Wang dalam posisi berdiri juga banyak dijumpai. Ia tidak memakai topi Buddha seperti yang dipakai dalam posisi duduk. Posisi ini melambangkan kesiagaan Di Zang Wang dalam menyambut panggilan mahluk - mahluk yang memeriukan pertolongannya. Di Zang Wang dalam posisi berdiri banyak terdapat di Jepang yang disebut Jizo Bosatso.
Ada juga Di Zang Wang yang ditampilkan dengan duduk di atas binatang aneh semacam singa. Binatang ini disebut Di-ting, memiliki kesaktian yang hebat. Dengan telinga kiri ia dapat mendengarkan suara dari lapisan langit yang ke - 33 dan telinga kanannya dapat mendengar suara lapisan bumi tingkat ke - 18. Dengan bantuan Di-ting ini Di Zang Wang banyak memperoleh pengetahuan tentang tiga lapis alam. Penampilan Di Zang Wang dengan Di-ting ini kita lihat antara lain di kelenteng Tay Kak Sie Semarang

