Di Zang Pu Sa (Tee Cong Po Sat - Hokkian) atau Ksitigarbha Boddhisatva disebut juga Di Zang Wang Pu Sa. (Tee Cong Ong Po Sat - Hokkian) atau You Ming Jiao Zhu (Yu Beng Kau Cu - Hokkian) dan Feng Du Da Di (Maha Raja Feng-du), merupakan dewata Buddhisme yang paling banyak di puja oleh masyarakat disamping Guan Yin. Pemujaannya tidak hanya terbatas di Tiongkok saja tapi juga menyebar ke Korea dan Jepang. Di Zang berarti "semua kekayaan yang disimpan dalam bumi", perkataan ini merupakan terjemahan langsung daii Ksitrigarbha dalam bahasa Sanskeskera Di Zang Pu Sa adalah saiah satu dari 4 Boddhisatva yang sangat dihormati oleh kaum Mahayana. Keempat Boddhisatva itu masing - masing memiliki empat
kwalitas dasar :
1). Guan Yin sebagai lambang Welas Asih.
2). Wen Shu sebagai lambang Kebijaksanaan.
3). Pu Xian sebagai lambang Kasih dan kegiatan.
4). Di Zang sebagai lambang Keagungan dalam sumpah untuk menolong dan melepaskan roh - roh yang sengsara.
Sumpah Agungnya yang penuh rasa welas asih berbunyi "kalau bukannya aku sendiri yang pergi ke neraka untuk menolong roh - roh yang tersiksa di sana siapa yang akan pergi?
kalau neraka belum kosong dari arwah - arwah yang tersiksa, aku tidak akan menjadi Buddha. Hanya bila semua mahluk telah diselamatkan, barulah aku mencapai tingkat keBuddhaan".
Dimata orang Tionghoa, Di Zang Wang adalah Dewa Pelindung bagi arwah-arwah yang sedang menderita sisksaan di neraka, agar mereka dapat lekas dibebaskan dan menitis kembali. Sering juga ia dikaitkan dengan sepuluh Raja Akherat (Shi Tian Yan Wang). Kesepuluh Raja Akherat itu adalah bawahannya langsung, sebab itu ia diberi gelar You Ming Jiao Zhu atau Pemuka Agama di akherat. Ia menjadi pelindung para arwah, membimbing mereka agar insyaf dari perbuatannya yang sudah - sudah, dan tak akan mengulang perbuatan tercela itu, agar bisa terbebas dari karma buruk pada penitisan yang akan datang.
Dikalangan rakyat banyak beredar kisah - kisah yang ada hubungannya dengan Di Zang Wang. Diantara kisah - kisah itu ada banyak juga yang menyamakan Di Zang Wang dengan Mu Lian. Kisah Mu Lian banyak mengharukan orang, tentang bagaimana ia menolong ibunya dari siksaan di neraka. Mu Lian oleh sementara orang dianggap sebagai Di Zang Wang. Sesungguhnya kalau kita meneliti kitab - kitab suci, Mu Lian adalah murid Buddha dan masuk jajaran Luo Han atau Arhad dan bukannya Di Zang yang berada dalam tingkatan Boddhisatva. Tentang Di Zang Wang, dalam kitab Buddha tercatat sebagai berikut:
"Ketika Buddha Sakyamuni telah menyelesaikan tugasnya dan masuk nirwana, 1.500 tahun kemudian ia menitis kembali ke dunia di Korea, sebagai seorang pangeran dari keluarga raja negeri Sinlo. Namanya Jin Qiao Jue (Kim Kiauw Kak - Hokkian). Sebab itu setelah orang tahu bahwa ia adalah penitisan Buddha, maka mereka memanggilnya Jin Di Zang. Konon wataknya sederhana, tidak kemeruk pangkat dan kemewahan, tapi sangat berbudi, welas asih. Ia sangat gemar mendalami ajaran Kong - zi dan Buddha. Pada masa pemerintah;, kaisar Tang Gao Zong, tahun Yong Wei ke-empat (yaitu tahun 653 Masehi), Jin Qiao Jue yang pada waktu itu berumur 24 tahun dengan membawa seekor anjing yang diberi nama Shan - ting (artinya harfiah "pandai mendengar"), berlayar menyeberangi lautan, kemudian sampai di pegunungan Jiu Hua Shan di propinsi Anhui.
Gunung Jiu Hua Shan sebetulnya adalah milik Min Gong (Bin Kong - Hokkian). Min Gong ini sangat berbudi, suka menolong orang - orang yang tertimpa kemalangan. Ia berjanji untuk menyediakan makanan vegetarian (Gakjay) untuk 100 orang pendeta Buddha. Tapi, tiap kali ia hanya dapat mengumpulkan 99 orang, tidak pemah berhasil memenuhi jumlah yang diinginkannya. Oleh karena itu, kali ini ia pergi sendiri ke gunung untuk mencari pendeta yang ke - 100. Ketika dilihat Jin Qiao Jue sedang bersemedi disebuah gubug, ia segera menghampirinya dan mengundangnya datang ke rumah untuk bersantap bersama - sama. Jin Qiao Jue yang melihat Min Gong kelihatannya ada jodoh dengan dia, lalu mengabulkan undangannya, tapi mengajukan satu permintaan. Permintaannya tidak banyak, ia hanya menginginkan sebidang tanah di Jiu Hua Shan itu, seluas baju kasanya (Jubah Suci Pendeta Buddha) apabila ditebarkan. Melihat permintaan yang hanya sepele itu, Min Gong langsung mengiakan. Tapi keanehan lalu ieijadi. Ternyata ketika Jin Qiao Jue menebarkan baju kasa nya keudara, seketika itu juga baju pusaka itu berubah menjadi sangat besar sekali sehingga dapat menutup seluruh pegunungan itu.
Begitulah Min Gong lalu menyerahkan Jiu Hua Shan kepada Qiao Jue yang digunakan untuk mendirikan tempat ibadat dan mengajar dharma. Min Gong bahkan menyuruh anak laki - lakinya ikut menemani Jin Qiao Jue menjadi pendeta. Putra Min Gong ini kemudian disebut Dao Ming He Sang (To Bing Hwee Shio - Hokkian). Selanjutnya Min Gong pun meninggalkan semua kehidupannya yang penuh kemewahan ikut menjadi penganut Jin Qiao Jue dan mengangkat Dao Ming He Sang, putranya sendiri, menjadi gurunya, untuk mensucikan diri di gunung Jiu Hua Shan.
Dewasa ini, gambar maupun patung - patung pemujaan Di Zang Wang, tentu dilengkapi dengan seorang pendeta muda yang berdiri disebelah kiri,dan seorang tua berdiri disebelah kanannya. Itulah Dao Ming He Sang dan Min Gong.
Jin Qiao Jue atau Di Zang Pu Sa bertapa di gun-.ng Jiu Hua Shan tujuh puluh lima tahun lamanya, dengan ditemani oleh anjingnya yang setia
Pada usia 99 tahun, beliau berpulang tepat dengan tanggai 30 bulan 7 penanggalan Imlik.
Ada juga yang mengatakan bahwa pada waktu Di Zang Wang telah berusia lanjut, seorang cendikiawan kenamaan Zhuge Jie, bersama - sama temannya sedang bertamasya ke gunung untuk mencari hawa segar. Sampai dicadas Qing Qi Yan, ia melihat Di Zang Wang sedang bersemedi dengan tekun, makannya hanya nasi putih yang dimasak encer di atas tungku dari tanah, diam - diam timbul rasa hormatnya. Ia lalu memprakarsai pengumpulan uang untuk mendirikan kuil di atas gunung Jiu Hua Shan. Sejak itu
para pendeta dari berbagai tempat mendatangi Di Zang Wang untuk menerima ajarannya.
Jin Qiao Jue meninggal pada tahun pemerintahan kaisar Xuan Zong dari dinasti Tang (728 Masehi) tanggal 30 bulan 7 Imlik. Inilah mengapa pada tiap jatuh tanggal tersebut masyarakat banyak membakar hio yang disebut Di Zang Xiang (Te Cong Kio - Hokkian) atau dupa Di Zang. Jenasah Jin Qiao Jue ditempatkan pada sebuah gua batu kecil. Sampai pada suatu ketika jenasah dikeluarkan. tetapi dalam keadaan baik dan tidak membusuk, wajahnya hanya seperti orang tidur.
Pada masa pemerintahan kaisar Xiao Zong, para penganutnya membangun sebuah pagoda di Nan - Tai (salah satu puncak di Jiu Hua Shan) dan menempatkan abunya disitu. Takkala pagoda itu sudah selesai dibangun dan abu telah ditempatkan, ternyata pagoda itu telah mengeluarkan sinar yang gilang-gemilang, sehingga mengherankan orang yang ada di situ. Tempat itu lalu diubah namanya menjadi Shen Guang Ling yang berarti Bukit Cahaya Malaikat. Sejak itu Jiu Hua Shan menjadi salah satu gunung suci untuk umat Buddha.
Harus diketahui bahwa di Tiongkok terdapat 4 gunung suci untuk umat Buddhist.
Yang pertama Jiu Hua Shan di propinsi Anhui, kedua Wu Tai Shan dipropinsi Shanxi, ketiga E Mei Shan di propinsi Sichuan dan keempat Pu Tuo Shan di propinsi Zhejiang.
Jiu Hua Shan yang merupakan gunung suci buat umat Buddha sebenar nya adalah salah satu cabang dari pegunungan Huang Shan, tingginya kira - kira 1.000m. Karena 9 puncaknya berbentuk seperti bunga yang sedang mekar, maka orang - orang menamakannya Jiu Hua Shan. Di situ terdapat 108 buah kuil Buddha Yang tertua adalah Hua Cheng Si, dulu pada tiap tanggal 30 bulan 7 Imlik, banyak para umat yang berbondong - bondong kemari untuk merayakan ulang tahun Di Zang Wang. Bangunan kelenteng Hua Cheng Si sangatlah indah penuh ukiran kayu dan batu yang bermutu tinggi sehingga para pengunjung dapat menikmati suatu karya seni Tiongkok kuno yang betul - betul bernilai. Kecuali itu tulisan dan prasasti yang ditulis oleh para kaisar - kaisar yang berkunjung kemari merupakan peninggalan sejarah yang patut dinikmati. Ruang utama kelenteg tersebut yang disebut Yue Shen Bao Dian, merupakan tempat dimana Zang Wang berpulang. Dalam ruang ini terdapat batu yang tercatat telapak kakinya, para pengunjung yang memasukki ruangan ini selalu berdoa sambil membakar dupa.
Di Zang Wang Pu Sa ternyata dipuja tidak hanya dikalangan Buddha saja. Dalam masyarakat pemujaannya juga sangat populer. Upacara perayaan Zang Wang, ternyata berbeda - beda di berbagai daerah, tapi dapat kami katakan disini bahwa perayaan yang paling meriah dan megah adalah yang lakukan rakyat dari propinsi Zhejiang. Di desa Xi di propinsi Guangdong, ada upacara yang disebut Yuan-xian
Dalam upacara ini, empat sudut tembok pagar rumah ditancapi hio, baru kemudian disediakan perbagai persajian, lilin dan kertas uang untuk dibakar setelah upacara selesai. Pada tanggai itu itu berbagai tempat yang termasuk propinsi Guangdong ada upacara yang disebut "Ji-ku" yang berarti "mengantar tabungan". Dalam upacara ini uang kertas emas dan perak bersama - sama baju - baju kertas dimasukkan kedalam sebuah peti kertas, setelah dipersembahkan dihadapan Di Zang Wang, benda tersebut dibak
Maksudnya agar Di Zang Wang mau menyimpankan tabungan mereka itu di akherat, sedang kuncinya yang juga dari kertas disimpan oleh si pengirim barang. Kalau si pemegang kunci meninggal dunia, anak cucunya membakar kunci kertas tersebut, agar dapat disertakan oleh simati dan digunakan untuk membuka peti tabungannya setelah diterima kembali dari Di Xang Wan
Upacara - upacara ini sekarang sudah jarang terlihat.
Menurut buku "Catalan dari Beijing", pada malam peringatan hari lahir Zang Wang itu, diadakan sembahyang dan diadakan pembacaan parita kelenteng - kelenteng seputar kota itu. Juga dipersiapkan sebuah perahu dari kertas dan bambu, didalamnya ditempatkan patung Di Zang Wang di kesepuluh raja akherat yang juga terbuat dari kertas. Tengah malam setelah upacara sembahyang selesai, lilin ditengah perahu itu dinyalakan dan perahu itu diturunkan ke air dan dibiarkan menga'ir kemana saja. Masyrakat yang menunggu di tepi sungai juga melepaskan lilin kecil yang diapungkan di atas piring kertas dan mengalir mengikuti perahu itu. Upacara ini disebut "Liu Hua Deng" atau "mengalirkan lentera bunga". Propinsi - propinsi lain seperti Jiangsu, Zhejiang juga mempunyai kebiasaan seperti itu, meskipun dengan variasi yang berbeda - beda.
Kecuali dipuja dikuil - kuil yang bercorak Buddha. Di Zang Wang banyak ditemui di kelenteng - kelenteng keluarga atau rumah - rumah abu dan tempat pembakaran mayat. Tujuannya adalah roh nenek moyang mereka memperoleh perlindungan dari Di Zang Wang agar lebih cepat memperoleh pembebasan siksaan di neraka dan menjelma kembali. Kadang - kadang upacara di situ dilakukan secara Taoist, tapi bagi masyarakat umum hal ini tidak jadi persoalan, yang perlu bagi mereka adalah sembahyangan itu sendiri, tanpa memperdulikan apakah itu dari aliran Tao atau Buddhis.
Di Zang Wang ditampilkan dalam keadaan duduk di atas teratai atau berdiri, memakai topi Buddha berdaun lima dengan wajah yang memancar sinar kasih, membawa tongkat bergelang seperti yang umumnya ini disebut Khakhara. Gelang - gelang yang ada diujung tongkat itu akan gemerincing berdering, kalau dibawa beijalan, suara ini diharapkan dapat membuat binatang - binatang kecil atau serangga menyingkir agar tidak terinjak sang pendeta, sebab salah satu prinsip agama Buddha adalah tidak membunuh mahluk hidup.
Di Zang Wang dalam posisi berdiri juga banyak dijumpai. Ia tidak memakai topi Buddha seperti yang dipakai dalam posisi duduk. Posisi ini melambangkan kesiagaan Di Zang Wang dalam menyambut panggilan mahluk - mahluk yang memeriukan pertolongannya. Di Zang Wang dalam posisi berdiri banyak terdapat di Jepang yang disebut Jizo Bosatso.
Ada juga Di Zang Wang yang ditampilkan dengan duduk di atas binatang aneh semacam singa. Binatang ini disebut Di-ting, memiliki kesaktian yang hebat. Dengan telinga kiri ia dapat mendengarkan suara dari lapisan langit yang ke - 33 dan telinga kanannya dapat mendengar suara lapisan bumi tingkat ke - 18. Dengan bantuan Di-ting ini Di Zang Wang banyak memperoleh pengetahuan tentang tiga lapis alam. Penampilan Di Zang Wang dengan Di-ting ini kita lihat antara lain di kelenteng Tay Kak Sie Semarang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Dikomentarin ya...